This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, October 8, 2012

Gerakan Protes Sartono Kartodirdjo III

Dari penjabaran empat tipe gerakan protes dalam buku Sartono, asosiasi pemimpin sebagai Imam Mahdi dan kemunculan Ratu Adil berkelindan dalam setiap gerakan protes yang terjadi. Ini misalnya tampak pada gerakan Tjiomas (h.31-2) atau Sarekat Islam lokal. Selain itu, yang tak kalah menarik adalah keberadaan gerakan Igama-Jawa Pasundan dan Sarekat Elmu. Dua gerakan ini memiliki perbedaan yang jelas dengan gerakan sekte atau tarekat Islam seperti Budiah, yang terkait dengan tarekat Islam, seperti Naqshbandiyah-Kidiriyah (h. 118).

Dari segi nama, Jawa-Pasundan, sekte ini tampaknya hendak menyatukan dua etnis pulau Jawa yang kemudian dihadapkan pada ortodoksi Islam yang dianggap menghancurkan kejayaan tradisi Jawa-Pasundan. Ada kemungkinan sekte ini didukung pemerintah kolonial Belanda. Ini dapat dibuktikan dengan pernyataan atau credo sekte mereka; bersetia [ada Seri maha Baginda Ratu Gouvernement Blanda (h. 129). Selain sekte ini, kelompok gerakan anti-Islam ini juga terdapat Hardapusara yang dipimpin Mashadi di Banjumas tahun 1920 dan Ilmu Sedjati di Yogyakarta (h. 130). Yang patut juga disebut, yang mungkin menghilhami Geertz menulis bukunya Religion of Java (1960), adalah gerakan Islam-Abangan di Surakarta  yang dipimpin Ranawaskita dan Mangunatmadja (h. 131). Sementara pada gerakan Sarekat Elmu, yang dipimpin Hadji Nawawi, yang menarik dari sini adalah bagaimana sebagai seorang ulama ia juga memadukan unsur-unsur tradisi seperti ajian-ajian atau jimat-jimat, serta keberadaannya yang dikenal sebagai dukun (h.136-8). Pada gerakan Sarekat Elmu tidak ada pembatasan yang tegas antara doktrin Islam yang ketat dengan unsur nilai-nilai tradisional Jawa yang memunculkan sinkretisme dalam ideologinya.

Studi Sartono dalam buku ini menggunakan pendekatan ilmu-ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Ia mempertegasnya lewat persilangan studi sosio-antropo-historis (h. 1). Pemakaian pendekatan yang multidisiplin ini menurutnya membuka wawasan yang lebih jelas dan luas atas berbagai masalah yang masih menunggu untuk diteliti. Masalah-masalah itu diantaranya adalah perubahan struktural masyarakat Jawa, pertarungan kekuasaan dan konflik dalam elite, penggunaan kepercayaan tradisional dan ideologi oleh pemimpin-pemimpin agama untuk menaikan daya genggam mereka, serta banyak lagi (h. 2). Oleh luasnya subject-matter dari aspek-aspek inilah, pendekatan yang multidisiplin menjadi pintu masuk yang tepat (h. 3).

Sebagai sebuah fenomena yang kompleks, studi gerakan sosial dalam hal ini gerakan petani di Jawa menurut Sartono tidak dapat dijelaskan dengan memuaskan jika terkunci pada satu faktor penentu semata. Biasanya para sejarawan convensional berkutat pada pada faktor ekonomi atau politik semata. Ditegaskan Sartono, hanya dengan kombinasi berbagai varian paradigma ilmu-ilmu sosial lain, kompleksitas penyebab sebuah gerakan petani tersebut dapat merangkum dan mengisahkan peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Maka dari itu, untuk menguatkan perspektifnya ini, Sartono menekankan adanya faktor-faktor penentu lain, selain ekonomi. Faktor-faktor itu adalah hubungan patron-klien, politik, sosial, kondisi-kondisi ekonomi, kelembagaan, dan ideologi (h. 3).

Dalam menganalisis kasus gerakan protes petani Jawa dalam buku ini, Sartono lebih jelas menguraikan langkah-langkah tiga paradigma utama analisisnya. Pertama, dalam konteks paradigma antropologi politik. Dalam paradigma ini Sartono memfokuskan pada paradigma actor oriented untuk memahami proses-proses ekonomi, sosial, dan politik secara umum. Kedua, paradigma sosial, dimana ia menekankan pada solidaritas kelompok dan konflik; norma-norma, nilai dan perilaku yang membentuk dan menciptakan kondisi gerakan; karakter dari institusi sosial yang ada, dan peranan kelompok elite dalam mencapai kekuasaan. Di sini Sartono menitikberatkan perhatiannya pada bagaimana sistem nilai tradisional menolak perubahan sosial. Ketiga, dalam konteks paradigma sejarah, Sartono berusaha mengenali keunikan, kekhususan, atau kekhasan karakter peristiwa yang dianalisisnya dalam buku ini (h. 3).
[Bila suka dengan artikel ini silahkan klik salah satu iklan di halaman depan, gratis. Sangat membantu update blog ini. Terima kasih...]

Saturday, October 6, 2012

Gerakan Protes Sartono Kartodirdjo II

Dari pemerasan ke Sarekat Islam Lokal
Secara temporal kajian Sartono ini mengambil kurun waktu dari tahun 1845 ketika terjadinya kerusuhan Tjikandi Udik (h. 22), di akhiri pada tahun 1935 ketika terjadinya Genuk Affair (skandal Genuk) di daerah Demak, Jawa Tengah (h. 59). Dalam riset yang tertuang dalam bukunya ini, Sartono memfokuskan pada hampir sebagian besar daerah-daerah di Jawa yang terkait dengan kebijakan kelonial akan tanah atau perkebunan. Diantara daerah-daerah yang menjadi areal kajiannya adalah Batavia, Bogor, Tjiomas, Banten, Tjirebon,Pemanukan, Tjiasem, Semarang, Surabaya, dan banyak lagi. Dari batasan waktu dan spasialnya, Sartono ingin menunjukan ada begitu banyak gerakan-gerakan protes di pedesaan Jawa ketika interaksi dengan kolonial Belanda—yang mulai mengenalkan sistem kapitalisme dan pendukungan terhadap pembangunan infrastruktur yang mendukung kepentingan pihak Belanda—terjadi.

Gerakan-gerakan protes itu dibagi Sartono dalam empat kategori; pemerasan, mesianisme, revivalisme dan sektarianisme, serta peranan Sarekat Islam lokal terhadap gerakan-gerakan protes tersebut. Sartono berusaha menjelaskan bagaimana gerakan itu muncul, siapa yang menggerakannya, bagaimana prosesnya, nilai-nilai ideologis dan terminology keagamaan apa yang dipakai, dan organisasi sosial apa yang terlibat. Kajian ini jelas sebuah penjabaran yang rinci dan luas. Dan Sartono, di setiap topik gerakan protes itu dengan baik mengurai unsur-unsur penjelasan dari gerakan protes tersebut.

Sekitar tigapuluhan gerakan yang tersebar dari Jawa Barat sampai Jawa Timur yang dijabarkan Sartono dalam karyanya ini yang kemudian menyebar ke berbagai daerah sekitar. Beberapa daerah yang terkena imbas, bahkan bagian dari gerakan-gerakan protes itu diantaranya, Kaputra Kidul, Kaputran Lor, Sawahan Bagong, Kembang Kuning—menyebut sebagian dari daerah tersebut—dan banyak lagi (h. 37). Selain itu terdapat juga daerah seperti Damarsi, Kebonpasar, dan Samentara, yang merupakan daerah-daerah yang terlibat dalam gerakan mesianik Haji kadir dari Babakan (h. 88-90).

Dari empat tipe gerakan protes di pedesaan Jawa dalam bukunya ini. Sartono mengurainya menjadi tiga orientasi gerakan protes; versus aparatus kolonial, versus Islam sebagai ideologi dan komuniti, dan versus masyarakat (society). Dari tiga oritensi gerakan protes itu yang paling banyak ditujukan adalah pada keberadaan kebijakan kolonial Belanda. Gerakan-gerakan itu diantaranya; gerakan Tjiomas di tahun 1886 yang merupakan konflik antara para penanam, pemilik tanah, dan pemerintah kolonial (h. 27); protes warga Pamanukan dan Tjiasem pada 1913 terhadap Regen Purwakarta terkait pembebasan diri mereka beban berat kerja paksa (h. 33); gerakan Entong Gendut di Batu Ampar dan Tandjong Oost tahun 1916 (h. 49); gerakan Budiah yang dipimpin Hadji Mohamad Rinfangi Kalisalak di awal abad ke-19 (h. 118); gerakan Igama Djawa-Pasundan yang melakukan purinisasi tradisi Jawa dari nilai-nilai keislaman di tahun 1925 (h. 127-8); dan gerakan yang dilakukan Sarekat Elmu yang terjadi di desa Mangkunegara di tahun 1920, yang diduga melakukan empat hal yakni memaling (committing theft), merampok (burglary), ngebegal (robbery), serta anti terhadap kepala desa dan polisi (h. 136).

Umumnya para penggerak gerakan protes terhadap berbagai institusi itu adalah para elite tradisional yang memiliki otoritas keagamaan atau spiritual. Pada kasus gerakan Tjiomas, penggeraknya bernama Apan yang berperan sebagai Imam Mahdi dan Mohamad Idris di Tjampea yang memakai gelar panembahan dalam gerakan mesianiknya (h. 31). Selain itu, para hajilah yang menjadi aktor utama dari gerakan protes di pedesaan Jawa, termasuk ketika gerakan itu di bawah arahan organisasi Sarekat Islam Lokal.

Yang paling menarik dari ideologi dan terminologi yang dipakai untuk menggerakan massa dalam setiap gerakan-gerakan protes yang dilakukan, adalah kepercayaan atas “Imam Mahdi” dan “Ratu Adil” (Just King). Terminologi Imam Mahdi merupakan sebuah ideologi keagamaan dalam masyarakat Muslimin, sementara Ratu Adil merujuk pada kepercayaan tradisi Jawa kuna (h. 32). [Bila anda suka artikel ini silahkan klik  iklan dihalaman depan. Gratis dan sangat membantu. Terima kasih]

Friday, October 5, 2012

Gerakan Protes Sartono Kartodirdjo: Bagian I


Pengantar
Tidak mudah bagi petani dimana pun sesungguhnya bergerak atau melakukan gerakan protes. Pandangan dunia mereka yang terbatas dan cenderung pasif mendorong sifat-sifat pasrah dan berlindung di balik alasan nasib atau kuasa-kuasa transenden pada setiap efek buruk yang menimpa mereka; misalnya banjir, tanah longsor, gagal panen karena berbagai sebab, serta himpitan politik lokal ketika terjadinya perang. Maka dari itu, munculnya fenomena gerakan petani yang meluas di kawasan Asia Tenggara—kawasan yang memiliki akar panjang pada sejarah pertaniannya—pada abad ke-19 dan seterusnya menimbulkan berbagai pertanyaan spekulatif dan hipotetif; faktor apa yang melatari atau mengapa mereka bergerak?

Jika kapitalisme Barat yang imperialis itu yang menjadi sumber petaka. Apakah kapitalisme Timur yang juga imperialis jauh sebelum abad ke-16 yang menguasai kawasan ini sesuatu yang mesti ditepikan? Bila kita menelusuri berbagai literatur kesejarahan kontemporer, persoalannya jelaslah bukan pada persoalan Barat atau Timur-nya. Tetapi pada titik ruyaknya yang bersifat sistemik, sehingga ketika mengkajinya pendekatan yang multidisiplin menjadi salah satu alternatif dalam mengcover satu periode yang jauh dari jangkauan imajinasi kita hari ini. Jika sejarah dalam objeknya yang luas itu begitu asing, lebih asing lagi membatasinya pada satu periode dan satu wilayah saja.

Jawa pada kurun beberapa abad lalu bagi kita sangatlah asing dalam perspektif metodologi sejarah yang empiris. No written no history menjadi paradigma ketat atas satu penulisan sejarah (historiografi) yang ilmiah. Meski di Jawa ada tradisi babad atau serat, namun itu belum cukup bahkan “haram” dipakai sebagai sumber sejarah yang empiris itu. Maka satu-satunya pencerahan adalah pada arsip-arsip kolonial yang dengan rapi mencatat berbagai gejolak yang terjadi, termasuk di Jawa pada abad-abad yang disebut periode Hindia-Belanda. Demikianlah, Jawa menjadi satu “kotak pandora” dalam aksara-aksara kolonial yang menyimpan berbagai hal menakjubkan; salah satunya catatan atas gerakan petani Jawa yang meluas di berbagai tempat sejak paruh terakhir abad ke-19 dan ke-20.

Ada dua kata utama yang menandai Jawa abad ke-19 dan ke-20; modernitas dan kapitalisme-kolonialis. Dua kata ini adalah satu kesatuan yang mencirikan zaman (zeitgeist) kala itu. Pembukaan perkebunan besar yang disertai sistem ekonomi liberal mendorong penerapan teknologi terkini yang berakibat pada transformasi sosial dan penerapan konsep-konsep modernisme di tanah Hindia-Belanda. Beberapa daerah di Jawa, seperti di Priangan, Tegal, Madiun, Semarang, Surabaya, dan banyak lagi tersunglap dari satu daerah rural menjadi urban/ suburban oleh laju dinamika penerapan teknologi tersebut. Segera sawah beralih fungsi sebagai lahan perkebunan tebu, kopi, dan tembakau, dan petani-petani pun beralih profesi karena kesempatan yang dibuka oleh keadaan itu.

Periode kapitalisme-kolonialis di paruh pertama abad ke-19 memang membuka berbagai kesempatan ekonomi, sekaligus mobilitas sosial orang-orang yang mau berasimilasi ke dalam sistem yang baru itu. Namun, secara sistemik perubahan itu juga mendatangkan berbagai persoalan di tingkat akar rumput seperti petani Jawa yang terkena dampak langsung oleh adanya sistem kapitalisme-kolonialis tersebut.

Bagi petani dengan pandangan dunia yang terbatas itu, tanah dan kemerdekaan individu merupakan segala-galanya. Ketika tanah tidak lagi memberi arti secara ekonomis, maka ketika itulah pegangan hidup mereka menjadi hampa dan mudah terombang-ambing. Begitu juga pada kemerdekaan individu mereka ketika tanah-tanah yang dimiliki digadai dalam batasan waktu lebih satu generasi (sampai 75 tahun), baik yang dilakukan secara sadar ataupun lewat intimidasi, tidak ada alternatif lain selain menyatukan diri pada kelompok “orang-orang yang kalah” yang siap untuk digerakan—bila istilah Tan Malaka dalam Massa Aksi kita gunakan.

Karya Sartono Kartodirdjo, Protest Movement in Rural Java: A Study of Agrarian Unrest in the Ninetheenth and early Twenthieth Century kurang lebih memfokuskan bagaimana kaum tani di pedesaan Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20 bergerak oleh desakan sistem kapitalisme-kolonialis Belanda. Buku ini merupakan kelanjutan eksplorasi kesejarahan dengan topik yang sama yang dilakukan Sartono pada karya magnum opus-nya the Banten Revolt of 1888.

Sartono Kartodirdjo merupakan embah sejarawan Indonesia. Ia merupakan salah seorang peletak dasar kajian sejarah ilmiah yang banyak diikuti generasi berikutnya. Pendekatan multidisiplin yang ia kenalkan mempengaruhi corak dan warna historiografi Indonesia mutakhir, salah satunya lewat bukunya ini.

Buku ini terdiri dari enam bagian yang dimulai dengan pendahuluan, dan diakhiri oleh kesimpulan. Buku ini juga dilengkapi dengan peta-peta pulau Jawa di awal abad ke-20, serta index yang cukup luas. Bagian-bagian itu adalah; pendahuluan, gerakan anti-pemerasan, gerakan mesianisme, gerakan sektarianisme dan pembaruan, gerakan Sarekat Islam lokal, dan kesimpulan.[bila anda suka dengan artikel ini mohon klik iklan di bawah atau di halaman depan. Gratis. Terima kasih]
***

Wednesday, October 3, 2012

Daina dari Koto Gadang


Judul Buku : Koto Gadang Masa Kolonial
Penulis : Azizah Etek, Mursjid A.M, Arfan, B.R
Penerbit         : LKiS, Yogyakarta, 2008
Tebal : 326 halaman


“Dengan penuh harapan dan perasaan kami, pertimbangkanlah penghuni (perempuan) Koto Gadang ingin perubahan”
(Petisi Hadisah, 6 Mei 1924)

Daina adalah gadis perantau dari Koto Gadang di Medan. Luasnya pendidikan di daerah asalnya telah membawanya keluar dari nagari yang tahun-tahun 1920-an masih terikat pada pertanyaan; siapakah yang pantas disebut sebagai orang Koto Gadang. Ia bekerja sebagai post asisstent di Kantor Pos Medan. Tak mau kalah dengan perantau laki-laki lainnya, namanya pun masuk ke dalam daftar donatur pembangun nagari para “engku-engku doto” itu.

Pada satu hari dia jatuh cinta dan kawin di Deli dengan laki-laki muslim pilihannya bernama Pomo, kawan sekantornya yang berasal dari Jawa. Entah paham atau tidak, mungkin juga karena pendidikannya yang sudah maju, ia terlupa bahwa “haram” hukumnya gadih Koto Gadang kawin dengan orang dari luar. Seorang perempuan dari negeri asalnya hanya boleh kawin dengan laki-laki dari Koto Gadang.

“Membaca dan memperhatikan kerapatan penghulu-penghulu itu telah juga paduka yang mulia ada heran pula sebab selama paduka bermukim di Bukittinggi barangkali paduka belum pernah mendengar bahwa sudah dari dahulu kala perempuan di Koto Gadang tidak boleh kawin dengan laki-laki lain yang bukan dari empat koto (Sianok, Koto Gadang, Guguk, dan Tabek Sarojo). Untuk itu sebagai hukuman, Daina dijatuhi hukuman buang tingkarang yang berarti: dikeluarkan sepanjang adat. Jikalau ada ninik mamak atau kaum keluarga menerima Daina dengan baik jika ia datang ke Koto Gadang, maka orang-orang itu keluar pula dari sepanjang adat di Koto Gadang” (Surat oleh redaksi Soeara Koto Gadang kepada Van Rokel).

***
Koto Gadang, nagari di barat Bukittinggi, di seberang Ngarai Sianok sangat kuat mempertahankan adat. Akan tetapi dalam waktu bersamaan Koto Gadang merupakan daerah pertama yang membuka diri terhadap pengaruh luar, khususnya pendidikan Belanda di Sumatera Barat. Pendidikan Barat bertemu dengan kekolotan adat!

Membaca atau mendengar nagari ini membawa orang pada nama besar Haji Agus Salim. Selain Salim, Koto Gadang juga pernah melahirkan tokoh seperti Syaikh Khatib Al Minangkabauwi dan Abdul Rivai. Selain itu, tak ada wilayah lain di Sumatera Barat yang paling dipengaruhi sistem pendidikan Belanda yang berseberangan dengan Padangpanjang di sisi lain, yang kuat dengan  tradisi keislamannya.

Namun, sesungguhnya ada satu hal yang jarang ditulis atau diperhatikan adalah keresahan kaum perempuan Koto Gadang sebagaimana diungkapkan buku ini. Meski awalnya buku ini mengajak kita bertamasya ke masa lalu ke nagari para engku-engku itu, namun buku ini banyak mengungkap bagaimana sebuah pembaruan sikap para perempuan Koto Gadang yang tak mau lagi diatur berdasar aturan patriarki kaumnya.
Kasus Daina adalah salah satu kasus pembuka dalam buku ini. Secara gamblang ia mengisahkan perlawanan dan polemik besar yang muncul dari “penyimpangan” itu yang diikuti kemudian apa yang disebut sebagai “Petisi Hadisah” tahun 1924. Satu semangat yang ingin mereka sebarkan adalah: perubahan dan emansipasi. Petisi itu juga bahkan lebih canggih dari gerakan emasipasi Kartini di zaman yang zaman.

Buku ini menarik karena ditulis berdasarkan pembacaan romatik akan masa lalu. Tinggalkan segala tata krama penelitian sejarah ilmiah karena buku ini memang ditulis oleh sejarawan profesional. Namun demikian, salah satu kelemahan buku ini adalah ia terlalu “ringan” sebagai sebuah buku sejarah serius, atau mungkin demikian maksud para pengarang. Penulis adalah pecinta sejarah. [Bila anda suka artikel ini silahkan klik iklannya, gratis]

Tuesday, October 2, 2012

Hatta's Corner: Setia dalam Penantian, Sepi dalam kesendirian


hatta's-corner-UGM's-library
Hatta Corner merupakan pusat koleksi pribadi Mohammad Hatta, wakil presiden pertama RI. Letaknya di lantai tiga pustaka pusat UGM, Yogyakarta. Ruangnya cukup luas dan nyaman. Sebuah foto besar Hatta terlihat menggantung di sisi kanan pintu masuk; tersenyum dan seakan mempersilahkan pengunjung menikmati kumpulan buku-buku yang dirawatnya sejak menjadi siswa MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs atau Sekolah Menengah Pertama) di Padang.

Ada satu orang pengelolanya. Namanya Pak Margiono. Beliau ramah, khas Yogya, melayani para pengunjung yang membutuhkan beragam informasi di Hatta Corner. Dengan sabar dan telaten Pak Margiono menjaga sekitar empat ribu lebih koleksi Hatta Corner ini.

hatta's-corner-UGM's-library-room
Koleksi milik Hatta Corner beragam. Ada buku, majalah, bundel Kolonial Verslag (laporan kolonial Belanda), Lembaran Negara (Staatsblad) masa Hindia-Belanda, peta, foto-foto, dan lain-lain. Topiknya pun beragam seperti politik, sejarah, ekonomi, budaya, dan karya sastra dari berbagai negara seperti India, China, Korea, dan lain-lain. Ada yang beratnya cuma kurang satu kilo, tapi ada juga yang hampir 10 kg. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, Perancis, Jerman, dan China.

Sebagian buku-buku atau majalah di sini barang langka. Ada sebagian yang telah berusia 500 tahun. Topik tentang sejarah Indonesia merupakan koleksi paling banyak di Hatta Corner. Tak heran sering mahasiswa sejarah UGM, S1 sampai S3 menghabiskan waktunya di ruangan ini, tetapi banyak juga dari bidang ilmu lain seperti sastra, politik, bahkan biologi.

Sepi
Menurut Pak Margiono, paling banyak dua atau tiga orang saja datang ke Hatta Corner setiap harinya. Paling lama mereka “bertahan” cuma tiga jam, setelah itu pergi lagi ke layanan lain perpustakaan pusat UGM. “Maklum, mungkin karena sepinya mereka jadi tak betah”, kata Pak Margiono.

Seorang mahasiswa sejarah mengatakan, ruangan Hatta Corner ini berhantu. Semakin ke ujung memeriksa buku-buku dari latanah silam itu semakin merinding bulu kuduk dibuatnya. “Ada aura-aura kolonial gimana, gitu”, jelas Doni.

Lain halnya Yayuk, mahasiswa pascasarjana sejarah UGM. Ia kerasan berlama-lama di Hatta Corner. Selain sepi, koleksinya pun cukup lengkap tentang sejarah Indonesia masa kolonial. Diakuinya waktu menulis skripsi dulu, koleksi Hatta Corner memberi bahan sejarah melimpah. “Daripada ke Pustaka Nasional atau Arsip Nasional, Jakarta. Selain jauh dan makan biaya, kan mending di sini. Gak bayar lagi,” sebutnya.

Fadly, mahasiswa pascasarjana sejarah yang lain mengamini pendapat Yayuk. Menurutnya koleksi Hatta Corner cukup memuaskan. Ia bebas memfoto atau meng-copy sumber-sumber sejarah yang ada. Ia berniat membantu Pak Margiono mendigitalisasi karya-karya langka yang ada di sini. “Lumayan, Mas. Sembil menyelam minum air, sambil cari data kan dapat juga membantu menyelamatkan koleksi langka di Hatta Corner. Udah banyak yang mulai hancur, sayangkan jadinya,” kata Fadly.

Menyelamatkan
Kalau dikira-kira dua pertiga koleksi Hatta Corner memang mulai rusak sedang sampai parah. Pengunjung disarankan memakai masker dan sarung tangan karet kala membuka lembaran-lembaran buku atau majalah lama. Tetapi tetap saja ada yang nakal. Bundel kolonial verslag dari tahun 1915-1917 tampak awut-awutan. Banyak halamannya yang sobek dan lepas. Selain itu ada juga yang mulai rapuh karena tidak dijamah, sehingga debu yang melekat menjadi parasit yang menyebabkan covernya seperti berkarat.

Menurut cerita Fadly, pihak jurusan sejarah UGM dan Hatta Corner telah bersepakat mendigitalisasi semua koleksi tinggalan Hatta itu. Proyek ini dipimpin Prof. Dr. Djoko Suryo, seorang sejarawan senior UGM. Tetapi entah kenapa belum tampak kesibukan digitalisasi itu. “Mungkin terkendala biaya,” sebut Fadly.

Kurangnya perhatian dari berbagai pihak terhadap koleksi Hatta Corner ini cukup memprihatinkan. Perlu kiranya penyelamatan atas koleksi di Hatta Corner, tidak saja karena siapa yang mewarisi, tetapi juga kekayaan intelektual yang dikandungnya.

Lebih banyak lagi info review dengan mengklik Note Reviews